GERAKAN MAHASISWA DARI MASA KE MASA (7 Tahun Refeleksi Gerakan Reformasi)


PENDAHULUAN

Sangat Menarik untuk dibicarakan jika kita berbicara mahasiswa, karena mahsiswa adalah predikat yang amat “eksklusif”. Disebut eklsusif karena mahasiswa adalah sosok yang istimewa dipandang dari sudut apapun dan dari manapun serta mempunya cerita yang istimewa dari masa ke masa, baik di Negara maju maupun di Negara berkembang begitu juga halnya dengan mahasiswa di Indonesia.

Di Indonesia sendiri mahasiswa mempunyai peranan penting dalam mengubah sejarah kebangsaan dan perjalanan demokrasi. Catat saja bagaimana peranan mahasiswa mampu merubah wajah perpolitikan saat ini yaitu dengan Gerakan reformasinya. Jauh beberapa tahun kebelakang kita mengenal angkatan gerakan kemahsiswaan dengan segala momentum sejarah kebangsaan di tanah air.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1966

Dikenal dengan istilah angkatan 66, gerakan ini awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, dimana sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang sekarang berada pada lingkar kekuasaan dan pernah pada lingkar kekuasaan, siapa yang tak kenal dengan Akbar Tanjung dan Cosmas Batubara. Apalagi Sebut saja Akbar Tanjung yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) periode tahun 1999-2004.

Angkatan 66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten Negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Eksekutif pun beralih dan berpihak kepada rakayat, yaitu dengan dikeluarkannya SUPERSEMAR (surat perintah sebelas maret) dari Presiden Sukarno kepada penerima mandat Suharto. Peralihan ini menandai berakhirnya ORLA (orde lama) dan berpindah kepada ORBA (orde baru). Angkatan 66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyaknya aktivis 66 yang duduk dalam kabibet pemerintahan ORBA.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1972

Gerakan ini dikenal dengan terjadinya peristiwa MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari). Tahun angkatan gerakan ini menolak produk Jepang dan sinisme terhadap warga keturunan. Dan Jakarta masih menjadi barometer pergerakan mahasiswa nasional, catat saja tokoh mahasiswa yang mencuat pada gerakan mahasiswa ini seperti Hariman Siregar, sedangkan mahasiswa yang gugur dari peristiwa ini adalah Arif Rahman Hakim.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1980 an

Gerakan pada era ini tidak popular, karena lebih terfokus pada perguruan tinggi besar saja. Puncaknya tahun 1985 ketika Mendagri (Menteri Dalam Negeri) Saat itu Rudini berkunjung ke ITB. Kedatangan Mendagri disambut dengan Demo Mahasiswa dan terjadi peristiwa pelemparan terhadap Mendagri. Buntutnya Pelaku pelemparan yaitu Jumhur Hidayat terkena sanksi DO (Droup Out) oleh pihak ITB (pada pemilu 2004 beliau menjabat sebagai Sekjen Partai Serikat Indonesia / PSI).

Gerakan Mahasiswa Tahun 1990 an

Isu yang diangkat pada Gerakan era ini sudah mengkerucut, yaitu penolakan diberlakukannya terhadap NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus / Badan Kordinasi Kampus) yang membekukan Dewan Mahasiswa (DEMA/DM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Pemberlakuan NKK/BKK mengubah format organisasi kemahsiswaan dengan melarang Mahasiswa terjun ke dalam politik praktis, yaitu dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, dimana Organisasi Kemahasiswaan pada tingkat Perguruan Tinggi bernama SMPT (senat mahasiswa perguruan tinggi).

Organisasi kemahasiswaan seperti ini menjadikan aktivis mahasiswa dalam posisi mandul, karena pihak rektorat yang notabane nya perpanjangan pemerintah (penguasa) lebih leluasa dan dilegalkan untuk mencekal aktivis mahasiswa yang berbuat “over”, bahkan tidak segan-segan untuk men-DO-kan. Mahasiswa hanya dituntut kuliah dan kuliah tok.

Di kampus intel-intel berkeliaran, pergerakan mahasiswa dimata-matai. Maka jangan heran jika misalnya hari ini menyusun strategi demo, besoknya aparat sudah siap siaga. Karena banyak intel berkedok mahasiswa.

Pemerintah Orde Baru pun menggaungkan opini adanya pergerakan sekelompok orang yang berkeliaran di masyarakat dan mahasiswa dengan sebutan OTB (organisasi tanpa bentuk). Masyarakat pun termakan dengan opini ini karena OTB ini identik dengan gerakan komunis.

Pemahaman ini penulis dapatkan ketika mengikuti ORPADNAS (orientasi kewaspadaan nasional) tingkat DKI Jakarta yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi di Jakarta pada tahun 1993. dan juga sebagai peserta pada kegiatan TARPADNAS (penataran kewaspadaan nasional) tingkat nasional yang diikuti oleh unsur pemuda dan mahasiswa seluruh Indonesia tahun 1994..

Pemberlakuan NKK/BKK maupun opini OTB ataupun cara-cara lain yang dihadapkan menurut versi penguasa ORBA, tidak membuat mahasiswa putus asa, karena disetiap event nasional dijadikan untuk menyampaikan penolakan dan pencabutan SK tentang pemberlakukan NKK/BKK, termasuk juga pada kegiatan TARPADNAS.

Sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintah tidak berhenti pada diberlakukannya NKK/BKK, jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap refresif Pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (pergerakan mahasiswa islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Kristen Indoenesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Ini juga dialami penulis yang menemukan titik kejenuhan jika hanya bergulat dengan ORMAWA intra kampus, karena mahasiswa menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar, apalagi predikat mahasiswa adalah sebagai agent of intelegence, agent of change, agent of social control, yaitu mahasiswa sebagai seorang kaum terdidik, sebagai pembaharu dan sebagai kontrol sosial.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1998

Gerakan mahasiswa era sembilan puluhan mencuat dengan tumbangnya Orde Baru dengan ditandai lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, tepatnya pada tanggal 12 mei 1998.

Gerakan mahasiswa tahun sembilan puluhan mencapai klimaksnya pada tahun 1998, di diawali dengan terjadi krisis moneter di pertengahan tahun 1997. harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Mahasiswa pun mulai gerah dengan penguasa ORBA, tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa. Ibarat gayung bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda REFORMASI nya mendapat simpati dan dukungan yang luar biasa dari rakyat. Mahasiswa menjadi tumpuan rakyat dalam mengubah kondisi yang ada, kondisi dimana rakyat sudah bosan dengan pemerintahan yang terlalu lama 32 tahun ! politisi diluar kekuasaan pun menjadi tumpul karena terlalu kuatnya lingkar kekuasaan, dan dikenal dengan sebutan jalur ABG (ABRI, Birokrat, dan Golkar).

Simbol Rumah Rakyat yaitu Gedung DPR/MPR menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia, seluruh komponen mahasiswa dengan berbagai atribut almamater dan kelompok semuanya tumpah ruah di Gedung Dewan ini, tercatat FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta), FORBES (Forum Bersama), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan FORKOT (Forum Kota). Sungguh aneh dan luar biasa, elemen mahasiswa yang berbeda paham dan aliran dapat bersatu dengan satu tujuan : Turunkan Soeharto.

Dua elemen mahasiswa yang mencuat adalah FKSMJ dan FORKOT. Penulis mengenal betul karakter dua elemen mahasiswa ini. FKSMJ yang merupakan forumnya senat mahasiswa se Jakarta, lebih intens melakukan koordinasi dan terkesan hati-hati dalam menyikapi persolan yang muncul, dan lebih apik dalam beraksi karena menghindari gerakan mata-mata intel. Sedangkan FORKOT yang terdiri dari kelompok aktivis mahasiswa Pers Kampus lebih “radikal” dalam beraksi dan berani menentang arus, sehingga tak jarang harus berhadapan langsung dengan aparat, dan bentrok fisik pun tak terelakan.

Perjuangan mahasiswa menuntut lengsernya sang Presiden memang tercapai, tapi perjuangan ini sangat mahal harganya karena harus dibayar dengan 4 nyawa mahasiswa Tri Sakti, mereka gugur sebagai Pahlawan Reformasi, serta harus dibayar dengan tragedi Semangi 1 dan 2. Memang lengser nya Soeharto seolah menjadi tujuan utama pada gerakan mahasiswa sehingga ketika pemerintahan berganti, isu utama kembali kepada kedaerahan masing-masing. FORKOT dan FKMSMJ pun kembali bersebrangan tujuan.

REFORMASI terus bergulir, perjuangan mahasiswa tidak akan pernah berhenti sampai disini. Perjuangan dari masa ke masa akan tumbuh jika Penguasa tidak berpihak kepada rakyat.

Penutup

Dari perjalanan gerakan mahasiswa dari masa ke masa ada persamaan ciri dari gerakan mahasiswa angkatan 98 dengan gerakan mahasiswa angkatan lainnya, yaitu :

¨ Sebagai Motor penggerak Pembaharuan
¨ Kepedulian dan Keberpihakan terhadap rakyat

Sedangkan perbedaan yang mencolok adalah, penyikapan isu yang tidak sentral lagi, karena REFORMASI TOTAL belum tuntas dan aktivis angkatan 98 sudah melepas statusnya sebagai mahasiswa, serta mereka sudah tidak seidealis lagi ketika waktu masih menjadi mahasiswa di dalam menyikapi persolan bangsa, mereka sekarang sudah terjun kedalam dunia politik praktis dan tersebar di banyak partai pemilu 2004. Dulu mereka menggugat ORBA, tapi sekarang duduk dan bergabung dalam lingkaran ORBA. Inilah suatu realita perpolitikan di Indonesia. Mungkin juga anda yang sekarang sebagai aktivis akan seperti mereka, menjadi seorang Opurtunis ? hanya anda sendiri yang akan menentukan langkah selanjutnya.

Karakter yang menarik dari semua aktivis gerakan mahasiswa adalah mereka yang memenuhi persyaratan :

  • Mempunyai prestasi akademik yang baik (IPK diatas rata-rata).
  • Basic organisasi yang kuat, karena mengalami pengkaderan yang berjenjang dari tingkatannya, bukan aktivis instant yang hanya mengejar popularitas sesaat.
  • Santun dalam bertingkah cerdas dalam berfikir (ahlakul kharimah), dan menjadi panutan mahasiswa lainnya.
  • Mampu me-manage (mengatur) waktu, bukan waktu yang mengaturnya.
  • Mampu menuangkan pokok pikiran dan ide-ide nya kedalam tulisan. Gerakan penyadaran tidak hanya dalam bentuk aksi jalanan melainkan dalam bentuk tulisan juga.


Jika anda sebagai mahasiswa mempunyai semua kriteria seperti diatas, maka anda layak menyandang predikat sebagai aktivis mahasiswa sejati. Jika belum, maka baiknya Penulis sarankan anda banyak belajar, belajar dan belajar.

(Tulisan ini sudah dimuat di Harian RADAR KARAWANG edisi : Awal Mei 2005 dimuat secara bersambung & Jurnal Kopertis Wilayah IV Jawa Barat)


SUDARMA

<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Mantan Aktivis Mahasiswa 98 di Jakarta

<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UNJ

<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Dosen STMIK Kharisma Karawang dan beberapa Perguruan Tinggi di Karawang

<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Pemerhati Pendiikan & Kemahasiswaan

 


  1. tarli nugroho

    kang darma, saya kira ada banyak hal yang perlu dikoreksi dari tulisan itu. karena itu berhubungan dengan fakta-fakta yang bisa dicek akurasinya, tulisan itu sepertinya perlu diperbaiki. pertama, peristiwa malari terjadi pada 1974, bukan pada 1972. kedua, silakah dicek lagi, insiden penolakan kedatangan Rudini di ITB terjadi pada 1989, bukan pada 1985. ketiga, dalam peta gerakan mahasiswa indonesia, setelah peristiwa malari, ada lagi gerakan yang patut dicatat, yaitu gerakan mahasiswa 1978, yang dipelopori oleh mahasiswa bandung (rizal ramli dkk). keempat, NKK/BKK diberlakukan pada 1978, saat daoed joesoef menjadi menteri pendidikan. cerita anda mengenai gerakan mahasiswa 1990-an, sebenarnya lebih tepat digunakan untuk menerangkan kondisi gerakan mahasiswa pada 1980-an. kelima, NKK/BKK yang digagas daoed joesoef berbeda jauh dengan NKK/BKK yang pada akhirnya dieksekusi oleh rejim, terutama dalam hal orientasi. demikian.
    ————————————–
    Kangdarma menjawab : …. trims informasinya……, Saya terlahir jaman ORBA jadi jaman kebelakang saya tidak mengetahui secara langsung hanya berdasarkan referensi buku2 yang saya baca…. tentang gerakan mahasiswa 90-an karena Saya salah satu aktivis kampus di Jakarta ikut terlibat dalam pencabutan pemberlakukaan SK Mendiknas No 0457/O/1990 tentang Organisasi yang berlaku di kampus sehingga terbentuknya SMPT (senat Mahasiswa Perguruan Tinggi). setiap event Nasional yang saya ikuti menuntut pencabutan SK tersebut. seperti kegaiatan yang saya ikuti TARPADNAS tahun 1995 (Penataran Kewaspadaan Tingkat Nasional) yang diikuti oleh perwakilan Mahasiswa (Saya mewakili UNJ / IKIP Jkt ), Organisasi Kepemudaan Se Indonesia). ORPADNAS (Orientasi Kewaspadaan Nasional) Tingkat DKI Jakarta (1994). serta dari beberapa diskusi yang saya ikuti di kampus dengan teman2 Pers kampus.
    Saya menulis untuk sekedar mengenang perjalanan sejarah agar tidak terlupakan begitu saja. INTINYA adalah Perjuangan Mahasiswa PERLU di Hargai sebagai Pahlawan Pembaharuan Bangsa.

    Salam.
    SUDARMA
    * Ketua Forum Disukusi Mahasiswa FODIM / LKM UNJ 1996-1997
    * Ketua Bidang I Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UNJ 1995-1996
    * Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro UNJ 1993-1994
    * PMII Komisariat UNJ 1996-1997

  2. Goziem tea

    Bos kalo mahasiswa yang nginep di kampus termasuk aktifis ga??? apa disebut romli saja…. (rombongan liar)
    ———————-
    Kangdarma menjawab : …….ehm…. gimana ya…? karena saya juga dulu suka nginep di kampus, dan termasuk aktivis. ada teman + senior saya dulu suka nginep di kampus…. dan sekarang sudah jadi Anggota Dewan Pusat …. CHOTIBUL IMAM WIRANU teman dekatnya wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar. (semuanya senior saya di PMII, Pergerakkan Mahasiswa Islam Indonesia) ;) ada juga teman sesama angkatan di PMII dulu (1995 an) JURI ARDIANTORO yang menjabat Ketua KPUD DKI sewaktu pemilihan Gubernur DKI terpilih Fauzi Bowo. … wah jadi inget kenangan lama saat kita mengikuti pendidikan calon anggota…, kita sempat menamakan ITISHOM 12 (ada 12 orang calon anggota dan di “Tempa” satu minggu di Mesjid Al-Itishom Jkt…..)
    Jadi …. yg suka nginep …… aktivis-bukan-aktivis-bukan-aktivis-bukan…… (tanya sama Tokek aja ya..) ;)

  3. tiar

    bang,tolong di angkatan 66 disertakan nama soe hok gie sebagai salah salah satu aktivisnya karena tidak dipungkiri dia juga adalah tokoh besar angkatan tersebut
    ————————–
    Kangdarma menjawab : …. ;) saya setuju itu ..! mungkin masih banyak juga tokoh yg tidak tersebut namanya tapi punya andil yang tidak kalah hebatnya….. :)

  4. deden permana

    manstap…..sya kagum….

  5. ridwan

    Kalau aktivis bayaran dibilang apa?kang

  6. mampir, udah lama gak jalan-jalan ke blog ini :) he..he…

  7. idealisme + pragmatisme = realistis
    salam kenal…




Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.